Belasan Balita di Lebong Kekurangan Gizi

Jumat 24-03-2023,09:54 WIB
Reporter : **
Editor : SARI APRIYANTI

LEBONG, CURUPEKSPRESS.COM - Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Sukaraja Kecamatan Amen, mencatat sepanjang tahun 2022 lalu sedikitnya ada 11 orang balita atau anak di wilayah tersebut mengalami kasus gizi kurang.

Jumlah itu meningkat jika dibanding pada tahun 2021 sebanyak 5 orang balita.

Kepala Puskesmas, Widya Astuti, SKM mengatakan jika banyaknya balita yang mengalami gizi kurang tersebut disebabkan kurangnya asupan gizi yang diberikan para ibu-ibu pada masa kehamilan, sehingga saat melahirkan berat badan bayi tidak normal seperti berat pada umumnya.

Faktor lain juga disebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap penting program posyandu yang dilaksanakan puskesmas ke desa-desa dan kelurahan.

BACA JUGA:Rencana Penghapusan TKS Dibatalkan?

BACA JUGA:GOR Terbengkalai jadi Sorotan, KONI Surati Bupati

“Mayoritas penyebabnya adalah kurangnya asupan gizi yang diberikan kepada balita, termasuk kurangnya partisipasi masyarakat untuk mengikuti kegiatan posyandu. Akibat kedua faktor inilah yang membuat tingginya kasus balita gizi kurang di wilayah kecamatan Amen,” kata Widya sapaan akrabnya.

Lebih jauh, Widya menyebut belasan balita yang mengalami gizi kurang tersebut tersebar di enam desa diantaranya, 2 kasus Pyambik, 3 kasus Talang Bunut, 2 kasus Selebar Jaya, 1 kasus Garut, 2 kasus Sukamarga, dan 1 kasus Nangai Tayau.

Meski temuan kasus gizi kurang cukup tinggi, pihaknya memastikan tahun ini nihil menangani kasus balita gizi kurang.

“Kasus gizi kurang terbanyak ditemukan di desa Talang Bunut yakni 3 kasus. Alhamdulillah, sejauh ini belum ada ditemukan kasus balita maupun anak yang mengalami gizi buruk,” sampainya.

BACA JUGA:Persembahan PMW, Gunting Kupon, Dapatkan Duit Bukoan!

BACA JUGA:Berawal dari Facebook Berujung Maut, Korban di Mutilasi 65 Bagian, Ini Kronologinya

Menurut Widya, untuk penanganan terhadap belasan balita kasus gizi kurang tersebut juga membutuhkan peran semua stakeholder agar terus bersinergi untuk bersama-sama menurun dan menekankan kasus gizi kurang.

Terutama para orang tua harus bisa memberikan asupan gizi yang cukup mulai dari usia kandungan.

“Selain peran stakeholder dalam penanganan kasus gizi kurang maupun gizi buruk kami terus berupaya melalui kegiatan posyandu melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap bayi, balita hingga ibu hamil. Selain itu ada juga pemberian makanan tambahan,” tutupnya.

Kategori :