Saparan, Tradisi Tahunan Masyarakat Jawa di Kabupaten Kepahiang

Senin 04-09-2023,09:41 WIB
Reporter : NICKO
Editor : redaksi

 

 

KEPAHIANG, CURUPEKSPRESS.COM - Sebagai Kabupaten yang memiliki masyarakat yang heterogen, tentunya ada berbagai macam suku di Kabupaten Kepahiang. Salah satunya adalah suku jawa yang merupakan suku paling banyak masyarakatnya, selain suku rejang. Untuk kali ini kita akan membahas salah satu tradisi tahunan masyarakat jawa yang ada di Kabupaten Kepahiang, yakni saparan. Dimana diketahui, Desa Pekalongan Kecamatan Ujan Mas Kepahiang kerap melaksanakan ritual tersebut.

 

Disampaikan Supratman (42) yang merupakan warga tetap di Desa Pekalongan, sekaligus merupakan perangkat desa di Desa Pekalongan. Saparan merupakan sebuah ritual pada bulan sapar yang dilakukan oleh masyarakat jawa yang berada di Pulau Jawa. Namun saat ini, karena sudah banyak masyarakat jawa yang bermigrasi ke Sumatera, tradisi tersebut tetap dibawa dan dilakukan untuk melestarikannya. Termasuk oleh masyarakat jawa yang ada di Kabupaten Kepahiang.

BACA JUGA:Kepahiang Salah Satu Penghasil Kopi Terbesar di Bengkulu

Dikatakan Supratman, daerah yang masyarakatnya masih melakukan ritual Saparan di Kabupaten Kepahiang adalah di Kecamatan Kabawetan, Ujan Mas dan Merigi. Bahkan sejak masyarakat jawa banyak yang pindah ke Kepahiang, tradisi tersebut sudah dilakukan secara rutin setiap tahunnya.

 

"Meski sebelumnya tradisi Saparan dilakukan oleh masyarakat jawa di pulau jawa. Saat ini tradisi tersebut tetap dilakukan oleh masyarakat jawa dimanapun berada. Termasuk di Desa Pekalongan Kecamatan Ujan Mas Kabupaten Kepahiang," ujarnya.

BACA JUGA:Oleh-oleh Makanan Khas Kepahiang Yang Paling Banyak Diminati Wisatawan

Selain itu dikatakan Supratman, Ritual Saparan dilakukan sebagai ritual tolak balak yang bermula dari adanya wabah penyakit atau musibah. Sehingga untuk menghindari bencana dan tidak terulang lagi, masyarakat mengadakan ritual untuk menolak bala.

 

"Ya menurut kepercayaan kami, tradisi Saparan ini guna untuk menolak balak atau menghindari terjadinya musibah," terangnya.

 

Adapun Rangkaian tradisi Tolak Balak dan Saparan jelas Supratman, dilakukan dengan membuat bermacam menu masakan dari setiap warga yang dibawa di perempatan jalan desa. Tujuannya untuk di do,akan serta saling bertukar makanan dari setiap warga yang membawa masakan yang sudah di do,akan.

Kategori :