Dampak Konflik Timur Tengah, Sri Lanka Ubah Sistem Kerja dan Distribusi BBM

Kamis 19-03-2026,08:00 WIB
Reporter : Lola Anggraini
Editor : Ab Gafur

IST

Sri Lanka ubah sistem kerja dan distribusi BBM.

 

 

 

CURUPEKSPRESS.COM - Pemerintah Sri Lanka mengambil langkah strategis dengan menetapkan hari Rabu sebagai hari libur bagi instansi publik. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya penghematan energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM), di tengah meningkatnya ancaman krisis energi global.

Situasi tersebut dipicu oleh ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang berdampak langsung pada distribusi minyak dunia.

Dalam rapat darurat bersama jajaran pejabat tinggi, Presiden Anura Kumara Dissanayake menegaskan pentingnya kesiapsiagaan nasional. Ia menyampaikan bahwa negaranya harus bersiap menghadapi skenario terburuk, sembari tetap berharap kondisi global dapat segera membaik.

Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran pemerintah terhadap potensi terganggunya pasokan energi yang dapat berdampak luas pada perekonomian dan kehidupan masyarakat.

Sebagai bagian dari kebijakan baru, Sri Lanka juga menerapkan sistem kerja empat hari dalam sepekan. Kebijakan ini tidak hanya berlaku bagi instansi pemerintahan, tetapi juga mencakup sektor pendidikan seperti sekolah dan universitas.

Meski demikian, layanan publik yang bersifat esensial termasuk sektor kesehatan dan imigrasi, tetap beroperasi seperti biasa demi menjaga stabilitas layanan kepada masyarakat.

Pemilihan hari Rabu sebagai hari libur tambahan bukan tanpa pertimbangan. Pemerintah ingin menghindari penutupan layanan publik selama tiga hari berturut-turut yang dapat terjadi jika hari libur ditetapkan pada Jumat. Selain itu, pemerintah juga memperkenalkan Kartu Bahan Bakar Nasional yang bertujuan mengontrol distribusi BBM secara lebih merata dan efisien.

Melalui sistem ini, pembelian bahan bakar dibatasi, yakni maksimal 15 liter untuk mobil pribadi dan 5 liter untuk sepeda motor.

Namun, kebijakan pembatasan tersebut memicu reaksi beragam dari masyarakat. Sebagian warga menilai kuota tersebut tidak mencukupi untuk kebutuhan harian, terutama bagi mereka yang bergantung pada kendaraan untuk bekerja. Kondisi ini menunjukkan dilema antara kebutuhan ekonomi masyarakat dan urgensi penghematan energi.

Krisis energi yang dihadapi Sri Lanka semakin kompleks setelah terganggunya jalur distribusi minyak global melalui Selat Hormuz. Jalur ini dikenal sebagai salah satu rute paling vital dalam perdagangan energi dunia, karena menjadi penghubung utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk ke berbagai negara. Menurut berbagai laporan lembaga energi internasional, sekitar 20% pasokan minyak global melewati selat tersebut setiap harinya.

Kategori :