Sering Dikonsumsi di Rumah, Kenapa Kangkung Tidak Ada di Rumah Sakit?

 Sering Dikonsumsi di Rumah, Kenapa Kangkung Tidak Ada di Rumah Sakit?

Bpjs--

CURUPEKSPRESS.COM - Kangkung merupakan salah satu sayuran hijau yang sangat akrab di meja makan masyarakat Indonesia. Harganya terjangkau, mudah diolah menjadi berbagai hidangan seperti tumis atau lalap, serta memiliki cita rasa yang khas. Namun, di balik popularitasnya, muncul pertanyaan menarik, mengapa Kangkung hampir tidak pernah terlihat dalam menu makanan pasien rumah sakit?

Pertanyaan ini ternyata berkaitan dengan prinsip dasar penyusunan diet klinis di fasilitas pelayanan kesehatan. Menurut Hana Fitria Navratilova, dosen Departemen Gizi Masyarakat di IPB University, setiap menu yang disajikan di rumah sakit dipilih melalui proses seleksi ketat. Tujuannya bukan sekadar memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga memastikan keamanan pangan dan kesesuaian gizi dengan kondisi medis pasien yang beragam.

Di rumah sakit, pasien tidak hanya membutuhkan makanan yang lezat, tetapi juga yang aman dan mendukung proses penyembuhan. Karena itu, pertimbangan dalam memilih bahan pangan jauh lebih kompleks dibandingkan menu rumah tangga biasa.

Banyak orang menduga bahwa kangkung jarang disajikan karena kekhawatiran terhadap kontaminasi, terutama isu logam berat. Namun, Dr. Hana menjelaskan bahwa alasan tersebut bukan satu-satunya faktor, bahkan bukan faktor utama. Secara umum, sayuran berdaun hijau memang cenderung lebih jarang digunakan dalam diet rumah sakit.

BACA JUGA: Masih Bingung Soal BPJS PBI, PPU, dan PBPU? Simak Penjelasan Lengkapnya di Sini!

BACA JUGA: Kulit Tetap Kenyal dan Terhidrasi di Bulan Puasa? Ini Tips Lengkapnya!

Salah satu pertimbangannya adalah kandungan purin. Purin merupakan senyawa yang dapat meningkatkan kadar asam urat dalam tubuh jika dikonsumsi berlebihan. Bagi pasien dengan gangguan metabolisme seperti hiperurisemia atau penyakit ginjal, asupan purin perlu dibatasi secara ketat. Selain purin, sayuran berdaun juga mengandung oksalat dan nitrat. Pada kondisi klinis tertentu, kedua zat ini perlu diawasi konsumsinya karena dapat memengaruhi kesehatan ginjal atau metabolisme tubuh pasien.

Artinya, rumah sakit harus memilih bahan makanan yang relatif aman untuk sebagian besar pasien dengan berbagai diagnosis. Mengingat pasien memiliki kondisi medis yang berbeda-beda, mulai dari gangguan ginjal, hati, metabolisme, hingga penyakit kronis, menu yang disajikan harus bersifat "aman secara umum".

Selain faktor kandungan zat gizi tertentu, aspek praktis juga menjadi pertimbangan penting. Sayuran berdaun, termasuk kangkung, memiliki daya simpan yang relatif singkat. Setelah dipanen atau diterima oleh dapur rumah sakit, sayuran ini harus segera diolah agar kualitas dan keamanannya tetap terjaga. Jika tidak, risiko kerusakan dan penurunan mutu gizi dapat meningkat.

Dari sisi penyajian, sayuran berdaun juga mengalami penyusutan volume yang signifikan setelah dimasak. Hal ini membuatnya kurang efisien dalam sistem produksi makanan skala besar seperti di rumah sakit. Dalam manajemen layanan gizi institusi, efisiensi bahan dan konsistensi porsi menjadi aspek yang sangat diperhitungkan. Karena itu, rumah sakit cenderung memilih jenis sayuran yang lebih stabil, mudah disimpan, tidak cepat layu, serta aman dikonsumsi oleh mayoritas pasien.

Logam berat memang termasuk kontaminan berbahaya apabila terakumulasi dalam tubuh dalam jangka panjang. Jika dikonsumsi melebihi batas aman, tubuh tidak mampu lagi menetralisir dan membuangnya, sehingga berpotensi menimbulkan gangguan ginjal, kerusakan hati, bahkan meningkatkan risiko kanker.

Namun, penting dipahami bahwa potensi kontaminasi logam berat tidak hanya terdapat pada kangkung. Beras, makanan laut, maupun bahan pangan lainnya juga berisiko terpapar jika berasal dari lingkungan yang tercemar. Bahkan kangkung yang dibudidayakan melalui sistem terkontrol seperti hidroponik dan telah lolos uji keamanan sebenarnya tetap aman untuk dikonsumsi masyarakat umum.

BACA JUGA:Napas Tak Sedap Saat Ramadan? Ini Panduan Lengkap Mengatasinya

BACA JUGA:Sering Breakout Setelah Pakai Vitamin C? Ini Penyebab dan Solusi yang Tepat

Sumber: