Banjir Jakarta Tak Kunjung Usai, Ini Analisis Ilmiah di Baliknya

 Banjir Jakarta Tak Kunjung Usai, Ini Analisis Ilmiah di Baliknya

Banjir Jakarta Tak Kunjung Usai, Ini Analisis Ilmiah di Baliknya--

 

CURUPEKSPRESS.COM - Banjir yang kerap melanda Jakarta dan wilayah sekitarnya tidak dapat dipahami semata-mata sebagai akibat dari curah hujan yang tinggi. Berdasarkan kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), peristiwa Banjir merupakan hasil dari interaksi yang kompleks antara berbagai faktor, mulai dari dinamika iklim, kondisi hidrologi, perubahan tata guna lahan, hingga pengelolaan sumber daya air yang belum optimal. Kompleksitas ini menunjukkan bahwa Banjir di Jakarta bersifat multifaktor dan saling terkait satu sama lain, sehingga penanganannya tidak dapat dilakukan secara parsial.

Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Budi Heru Santoso, menjelaskan bahwa terdapat tiga pemicu utama banjir yang saling berkelindan. Faktor pertama adalah penurunan muka tanah (land subsidence) yang terjadi hampir di seluruh wilayah Jakarta dengan laju yang bervariasi, yakni sekitar 1 hingga 15 sentimeter per tahun. Penurunan muka tanah ini menyebabkan elevasi permukaan daratan menjadi semakin rendah, sehingga meningkatkan kerentanan wilayah terhadap genangan dan limpasan air, terutama di kawasan pesisir dan dataran rendah.

Faktor kedua adalah terjadinya hujan ekstrem dengan intensitas yang melampaui kapasitas sistem drainase yang ada. Curah hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat menyebabkan air tidak dapat segera dialirkan, sehingga meluap dan menggenangi permukiman. Kondisi ini semakin diperparah oleh faktor ketiga, yakni menurunnya fungsi infrastruktur drainase dan sungai akibat penyumbatan sampah serta pendangkalan sedimen. Menurut Budi, kondisi tersebut secara signifikan mengurangi kapasitas alir sungai dan saluran air, sehingga meningkatkan risiko banjir bahkan saat debit air relatif tidak terlalu besar.

BACA JUGA: Lebih Efektif dan Aman, Terapi HNS Generasi Baru Tawarkan Harapan bagi Penderita Apnea Tidur

BACA JUGA: BPOM Terapkan Nutri Grade 2026, Ini Dampaknya bagi Konsumen dan Industri

Tekanan terhadap sistem hidrologi Jakarta semakin berat karena sebagian besar sungai dan kanal mengalami penurunan daya tampung akibat akumulasi sampah dan material sedimen yang terbawa dari wilayah hulu. Pendangkalan yang terjadi mempersempit penampang sungai, terutama di bagian hilir, sehingga aliran air menjadi terhambat. Akibatnya, luapan air ke wilayah sekitar menjadi sulit dihindari dan berdampak langsung pada aktivitas sosial serta ekonomi masyarakat.

Dalam menghadapi persoalan tersebut, Budi menegaskan bahwa penanganan banjir Jakarta memerlukan strategi terpadu yang mencakup langkah jangka pendek dan jangka panjang. Untuk jangka pendek, terdapat beberapa prioritas yang perlu segera dilaksanakan, antara lain penerapan sistem polder di wilayah dengan tingkat risiko banjir tinggi, optimalisasi sistem peringatan dini yang terintegrasi dan berbasis teknologi mutakhir, termasuk pemanfaatan algoritma kecerdasan buatan, serta pembangunan infrastruktur pengendali banjir di wilayah hulu guna menahan debit air sebelum memasuki kawasan perkotaan.

Selain upaya teknis, BRIN juga mengembangkan berbagai riset inovatif untuk mendukung mitigasi banjir di kawasan Jabodetabek. Salah satunya adalah pemanfaatan teknologi Synthetic Aperture Radar (SAR) dua dan tiga dimensi yang dikombinasikan dengan analisis multi-track InSAR. Teknologi ini memungkinkan pemetaan penurunan muka tanah secara presisi sekaligus identifikasi wilayah yang berpotensi mengalami banjir. Di samping itu, BRIN mengembangkan sistem kecerdasan buatan untuk memprediksi kenaikan muka air di Bendungan Katulampa berbasis data satelit, sehingga peringatan dini dapat diberikan kepada masyarakat dengan waktu yang lebih panjang dan tingkat akurasi yang lebih tinggi.

Sementara itu, Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Eddy Hermawan, menyoroti peningkatan frekuensi kejadian cuaca ekstrem sebagai dampak nyata dari perubahan iklim. Ia mencontohkan hujan ekstrem yang terjadi di Jakarta pada pergantian tahun 2020 dengan curah hujan harian mencapai 377 mm di Stasiun Halim Perdanakusuma. Menurut Eddy, memprediksi kejadian hujan ekstrem bukanlah hal yang mudah karena keterbatasan pemahaman terhadap dinamika atmosfer serta ketersediaan data beresolusi tinggi.

BACA JUGA:OPD Diminta Lebih Agresif Gaet Investor, Ini Imbauan Pemkab Rejang Lebong Dorong

BACA JUGA: Pemerintah Siapkan Label Peringatan Gula Tinggi pada Makanan dan Minuman, Ini Tujuannya

Eddy menjelaskan bahwa karakteristik data curah hujan yang bersifat tidak stasioner menjadi tantangan tersendiri dalam proses prediksi. Oleh karena itu, BRIN mulai mengadopsi pendekatan berbasis kecerdasan buatan, seperti machine learning dan deep learning. Salah satu metode yang telah diterapkan adalah Hybrid ARIMA-LSTM untuk memprediksi anomali curah hujan, yang terbukti mampu memberikan akurasi lebih baik serta jangkauan waktu prediksi yang lebih panjang dibandingkan metode konvensional.

Ia menambahkan bahwa integrasi data satelit, data reanalisis, dan data pengamatan langsung dari BMKG perlu diarahkan menjadi sistem peringatan dini yang tepat waktu, tepat sasaran, dan presisi hingga skala wilayah kecil. Mengingat hujan ekstrem umumnya dipicu oleh awan Cumulonimbus atau sistem konvektif skala besar yang dapat mencapai ketinggian hingga 16 kilometer, data radar cuaca menjadi komponen penting dalam sistem peringatan dini yang komprehensif.

Sumber: