Kesulitan Matematika pada Anak Ternyata Bukan Soal Rumus, Ini Temuan Ilmiahnya
Kesulitan Matematika pada Anak Ternyata Bukan Soal Rumus, Ini Temuan Ilmiahnya--
CURUPEKSPRESS.COM - Selama ini, banyak orang tua dan pendidik mengira bahwa kesulitan matematika pada anak semata-mata berkaitan dengan angka. matematika sering dipersepsikan sebagai kumpulan rumus yang kompleks, deretan hitungan yang membingungkan, serta ujian yang memicu kecemasan. Tidak sedikit pula yang menganggap bahwa anak yang lemah dalam matematika memang "tidak berbakat" atau kurang teliti.
Namun, temuan riset terbaru menunjukkan bahwa persoalan ini jauh lebih dalam daripada sekadar kemampuan berhitung. Pada sebagian anak, hambatan utama justru terletak pada bagaimana otak mereka memproses kesalahan dan menyesuaikan strategi belajar.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim ilmuwan, dimana asil penelitian tersebut dipublikasikan pada 9 Februari dalam jurnal ilmiah Journal of Neuroscience (JNeurosci) dan memberikan perspektif baru tentang akar permasalahan kesulitan belajar matematika.
BACA JUGA:Bocoran Harga Infinix Note 60 Pro Terungkap, Ini Jadwal Rilis dan Fitur Andalannya
Dalam studi tersebut, para peneliti merancang tugas yang tampak sederhana. Anak-anak diminta menentukan mana angka yang lebih besar. Kadang angka ditampilkan dalam bentuk simbol, seperti "7" dan "9", dan di lain waktu dalam bentuk visual berupa kumpulan titik. Meskipun terlihat mudah, tugas ini tidak sekadar menguji ketepatan jawaban. Peneliti ingin mengamati proses belajar yang terjadi di baliknya, bagaimana anak berpikir, bagaimana mereka merespons kesalahan, serta bagaimana mereka memperbaiki strategi setelah mengalami kekeliruan.
Alih-alih hanya menghitung jumlah jawaban benar dan salah, tim peneliti mengembangkan model pembelajaran yang melacak perubahan performa setiap anak dari waktu ke waktu. Dengan pendekatan ini, mereka dapat melihat pola adaptasi strategi yang dilakukan anak setelah melakukan kesalahan. Apakah anak mencoba pendekatan baru? Apakah mereka belajar dari kekeliruan sebelumnya? Ataukah mereka tetap menggunakan cara yang sama meskipun terbukti kurang efektif?
Hasilnya menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok. Anak-anak dengan kemampuan matematika yang berkembang secara tipikal cenderung menunjukkan fleksibilitas dalam berpikir. Ketika melakukan kesalahan, mereka tidak berhenti di situ.
BACA JUGA:Dua Mantan Pejabat Rejang Lebong Diperiksa Jaksa Terkait Kasus Ini
BACA JUGA:PNS di Rejang Lebong Diusulkan Naik Pangkat ke BKN
Mereka menyesuaikan strategi, mencoba pendekatan lain, dan menunjukkan peningkatan konsistensi pada percobaan berikutnya. Proses ini mencerminkan adanya kemampuan evaluasi diri dan kontrol kognitif yang baik.
Sebaliknya, anak-anak yang mengalami kesulitan matematika memperlihatkan pola berbeda. Mereka cenderung kurang menyesuaikan strategi, bahkan ketika kesalahan terjadi berulang kali dalam bentuk yang berbeda. Akibatnya, performa mereka tampak tidak stabil dari satu percobaan ke percobaan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan mereka bukan sekadar memahami angka, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan untuk memantau dan memperbaiki proses berpikir sendiri.
Untuk memahami mekanisme di balik perbedaan ini, para peneliti menggunakan teknik pencitraan otak. Hasilnya menunjukkan bahwa anak yang mengalami kesulitan matematika memiliki aktivitas yang lebih rendah pada area otak yang berperan dalam pemantauan kinerja dan penyesuaian perilaku. Area ini penting dalam proses refleksi diri, yakni kemampuan untuk menyadari kesalahan dan mengambil langkah korektif.
BACA JUGA:PNS di Rejang Lebong Diusulkan Naik Pangkat ke BKN BACA JUGA:Air Rebusan Ini Penakluk Insomnia!
Sumber: