Inilah Rahasia Tetap Segar saat Puasa Meski Mengurangi Kopi dan Teh

Selasa 17-02-2026,18:36 WIB
Reporter : Lola Anggraeni
Editor : Ab Gafur

 

 

BACAKORANCURUP.COM - Datangnya bulan suci Ramadan, berbagai persiapan lazim dilakukan oleh umat Muslim, mulai dari menata jadwal kegiatan hingga menjaga kondisi kesehatan. Salah satu hal yang kerap luput dari perhatian adalah kebiasaan mengonsumsi kafein, baik melalui kopi, teh, maupun minuman berenergi. Padahal, perubahan pola makan dan minum selama puasa dapat memengaruhi respons tubuh, terutama bagi mereka yang terbiasa mengonsumsi kafein setiap hari.

Kafein merupakan zat stimulan yang bekerja pada sistem saraf pusat. Konsumsi kafein dalam jumlah wajar dapat membantu meningkatkan kewaspadaan, mengurangi rasa kantuk, serta memperbaiki suasana hati. Namun, apabila tubuh telah terbiasa menerima asupan kafein secara rutin, penghentian mendadak dapat menimbulkan reaksi tertentu yang dikenal sebagai gejala putus kafein. Kondisi ini terjadi karena tubuh perlu beradaptasi kembali terhadap perubahan kadar kafein di dalam darah.

Dokter keluarga di Lifecare Hospital, dr. Faisal Arshad, menjelaskan bahwa saat seseorang tiba-tiba berhenti mengonsumsi kopi atau teh berkafein karena mulai berpuasa, tubuh dapat memberikan respons berupa keluhan fisik maupun emosional. Gejala yang paling sering muncul adalah sakit kepala, tubuh terasa lemas, mudah tersinggung, serta kesulitan berkonsentrasi. Hal tersebut terjadi karena pembuluh darah di otak yang sebelumnya menyempit akibat efek kafein, kembali melebar ketika asupan dihentikan secara tiba-tiba.

Senada dengan itu, dokter spesialis penyakit dalam dr. Javeed Ashfaque menerangkan bahwa gejala putus kafein umumnya mulai terasa dalam kurun waktu 12 hingga 24 jam setelah konsumsi terakhir. Intensitasnya dapat mencapai puncak pada rentang 20 hingga 51 jam, dan pada sebagian orang dapat bertahan selama dua hingga sembilan hari. Lamanya gejala sangat dipengaruhi oleh tingkat konsumsi harian serta kondisi metabolisme masing-masing individu.

BACA JUGA:Tunggakan Iuran BPJS Kesehatan di Rejang Lebong Tembus Rp6,4 Miliar

BACA JUGA:Pastikan Tak Ada Intervensi, Kejari Terus Bidik Aktor di Balik Tiga Korupsi Jumbo Rejang Lebong

Oleh karena itu, para ahli kesehatan menganjurkan agar pengurangan kafein dilakukan secara bertahap sebelum Ramadan dimulai. Strategi sederhana yang dapat diterapkan adalah menurunkan jumlah konsumsi harian sebesar 25 hingga 50 persen. Sebagai contoh, apabila seseorang terbiasa mengonsumsi tiga cangkir kopi per hari, ia dapat menguranginya menjadi dua cangkir terlebih dahulu selama beberapa hari, kemudian diturunkan kembali secara perlahan. Cara ini memberi kesempatan bagi tubuh untuk beradaptasi tanpa menimbulkan gejala yang terlalu berat.

Selain mengurangi jumlah, penyesuaian juga dapat dilakukan dengan mencampurkan kopi berkafein dengan kopi tanpa kafein (decaf) dalam perbandingan seimbang. Langkah ini membantu mempertahankan cita rasa yang sudah akrab di lidah, sekaligus menurunkan kadar kafein yang masuk ke dalam tubuh. Alternatif lainnya adalah mengganti kopi pekat dengan minuman berkafein lebih ringan, seperti teh hijau atau teh putih, yang umumnya memiliki kandungan kafein lebih rendah dibandingkan kopi.

Tidak hanya soal minuman, perubahan gaya hidup turut berperan penting dalam mendukung proses adaptasi. Memastikan kecukupan cairan dengan memperbanyak konsumsi air putih saat sahur dan berbuka dapat membantu mencegah dehidrasi, yang kerap memperburuk sakit kepala. Selain itu, menjaga kualitas tidur menjadi kunci utama agar tubuh tetap bugar meskipun asupan kafein berkurang. Aktivitas fisik ringan, seperti berjalan kaki atau peregangan, juga dapat meningkatkan aliran darah dan membantu tubuh tetap segar secara alami.

Bagi mereka yang tetap ingin mengonsumsi sedikit kafein saat sahur, disarankan untuk mulai menyesuaikan jadwal konsumsinya sebelum Ramadan. Dengan membiasakan diri minum kopi pada waktu sahur beberapa hari sebelumnya, tubuh akan lebih mudah beradaptasi dengan pola baru tersebut. Namun, jumlahnya tetap perlu dibatasi agar tidak mengganggu kualitas tidur pada malam hari.

Perlu dipahami bahwa rasa lelah ringan dan penurunan konsentrasi pada awal puasa merupakan hal yang wajar. Tubuh memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan ritme makan, minum, dan istirahat. Dengan perencanaan yang tepat serta pengurangan kafein secara bertahap, gejala yang muncul biasanya bersifat sementara dan akan mereda dengan sendirinya.

BACA JUGA:Sering Ditaruh di Kamar Mandi, 5 Produk Kecantikan Ini Cepat Rusak Karena Lembap

BACA JUGA:Mengapa Tetesan Air Bisa Membuat Layar HP Tidak Terkendali? Ini Jawabannya

Kategori :