5 Risiko Kesehatan Akibat Terlalu Sering Makan Gorengan Saat Buka Puasa

Rabu 25-02-2026,16:39 WIB
Reporter : Lola Anggraeni
Editor : Ab Gafur

CURUPEKSPRESS.COM - Berbuka puasa adalah momen yang paling dinanti setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Ketika azan magrib berkumandang, keinginan untuk segera menyantap makanan kerap sulit dibendung. Tidak sedikit orang yang langsung memilih gorengan sebagai hidangan pembuka. Rasanya yang gurih, teksturnya yang renyah, serta aromanya yang menggoda menjadikan gorengan seolah-olah menu wajib saat berbuka.

Namun, di balik kelezatan tersebut, terdapat sejumlah hal yang perlu diperhatikan. Setelah berpuasa selama kurang lebih 12 jam atau lebih, kondisi lambung berada dalam keadaan kosong. Tubuh memerlukan asupan yang ringan, mudah dicerna, serta mampu mengembalikan energi secara bertahap. Pilihan makanan yang tepat saat berbuka bukan hanya soal rasa, melainkan juga tentang bagaimana tubuh beradaptasi kembali setelah beristirahat cukup lama dari proses pencernaan.

Gorengan pada umumnya mengandung lemak dan kalori dalam jumlah tinggi. Selain itu, proses pengolahannya sering kali menggunakan minyak yang dipakai berulang kali. Minyak yang dipanaskan berulang dapat mengalami perubahan struktur kimia dan menghasilkan senyawa yang kurang baik bagi kesehatan. Jika dikonsumsi sesekali, tentu tidak serta-merta menimbulkan dampak serius.

BACA JUGA:Makanan Ini Perlu Dihindari Selama Puasa, Apa Saja?

BACA JUGA:Kolang-Kaling untuk Tulang, Mitos atau Fakta?

Akan tetapi, apabila hampir setiap hari berbuka puasa diawali dengan gorengan, risiko gangguan kesehatan dapat meningkat.

• Pertama, gorengan dapat memicu gangguan pencernaan. Lambung yang kosong dalam waktu lama akan lebih sensitif ketika menerima makanan tinggi lemak secara tiba-tiba. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa kembung, mual, begah, bahkan nyeri pada ulu hati. Makanan berminyak juga memerlukan waktu lebih lama untuk dicerna sehingga memperlambat proses pengosongan lambung. Akibatnya, perut terasa tidak nyaman dan aktivitas setelah berbuka menjadi terganggu.

• Kedua, konsumsi gorengan berlebihan berisiko memicu naiknya asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD). Lemak dalam jumlah tinggi dapat menyebabkan katup antara lambung dan kerongkongan menjadi lebih rileks. Keadaan ini memungkinkan asam lambung naik ke kerongkongan dan menimbulkan sensasi terbakar di dada (heartburn), rasa pahit di mulut, serta mual. Bagi individu yang memiliki riwayat maag atau GERD, kebiasaan berbuka dengan gorengan perlu diwaspadai karena dapat memperparah keluhan.

• Ketiga, gorengan yang umumnya berbahan dasar tepung putih memiliki indeks glikemik cukup tinggi. Ketika dikonsumsi dalam kondisi perut kosong, makanan tersebut dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah secara cepat. Setelah itu, gula darah dapat turun drastis sehingga tubuh terasa lemas dan mudah lapar kembali. Pola ini, apabila terjadi berulang, berpotensi meningkatkan risiko gangguan metabolisme, termasuk resistensi insulin.

BACA JUGA:Mengapa Makan Berlebihan Saat Sahur Justru Membuat Puasa Lebih Berat?

BACA JUGA:Inilah Rahasia Menumis Bumbu yang Benar, Anti Gosong, Anti Langu !

• Keempat, penggunaan minyak dalam jumlah besar terlebih jika dipakai berulang kali dapat menghasilkan lemak trans. Lemak jenis ini diketahui berkaitan dengan peningkatan kadar kolesterol jahat (LDL) dan penurunan kolesterol baik (HDL). Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah. Kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus dapat memberi dampak besar terhadap kesehatan kardiovaskular.

• Kelima, kandungan kalori yang tinggi pada gorengan, disertai nilai gizi yang relatif rendah, dapat memicu kenaikan berat badan apabila dikonsumsi secara rutin. Tanpa disadari, asupan kalori saat berbuka bisa melampaui kebutuhan harian. Jika tidak diimbangi dengan pola makan seimbang dan aktivitas fisik yang cukup, penumpukan lemak tubuh pun sulit dihindari.

Oleh karena itu, penting untuk lebih bijak dalam menentukan menu berbuka puasa. Mengawali dengan air putih untuk mengganti cairan tubuh, kemudian dilanjutkan dengan kurma atau makanan manis alami dalam porsi wajar, dapat membantu mengembalikan energi secara bertahap. Setelah itu, pilihlah makanan yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, serat, serta vitamin dan mineral yang seimbang. Sikap bijak dalam memilih makanan tidak hanya menjaga kenyamanan setelah berbuka, tetapi juga menjadi investasi penting bagi kesehatan jangka panjang. 

 

Kategori :