Jerawat Ternyata Berdampak Besar pada Mental Remaja
Kulit berminyak dan berjerawat yang perlu perawatan lebih intens.--
"Ketika seorang remaja menghabiskan waktu lama di depan cermin untuk memeriksa setiap pori wajahnya, itu jarang berkaitan dengan kesombongan. Lebih sering, itu adalah bentuk kecemasan," katanya.
BACA JUGA: POCO F7 Ultra atau POCO F8 Ultra? Simak Perbandingan Lengkap Sebelum Membeli
BACA JUGA: Tak Sekadar Takjil, Ini Manfaat Kurma dan Keju untuk Tubuh Saat Berbuka Puasa
Lebih jauh, dr. Gupta menjelaskan bahwa jerawat dan depresi memiliki hubungan dua arah. jerawat dapat memicu stres dan depresi, sementara depresi juga dapat memperburuk kondisi jerawat. Perubahan hormon, kualitas tidur yang buruk, serta peradangan akibat stres dapat memperparah kondisi kulit.
"Kondisi ini menciptakan lingkaran yang sulit diputus. Stres memicu jerawat, dan jerawat kembali memperdalam stres," ujarnya.
Tekanan dari media sosial turut memperparah situasi. Standar kecantikan yang tidak realistis, budaya membandingkan diri, serta penggunaan filter berlebihan membuat remaja semakin merasa tidak cukup baik.
"Masalah utamanya bukan jerawat itu sendiri, melainkan keyakinan bahwa jerawat membuat mereka merasa kurang berharga," tegas dr. Gupta.
Kabar baiknya, siklus ini dapat diputus dengan penanganan yang tepat. Menurut dr. Gupta, perkembangan dunia dermatologi saat ini memungkinkan jerawat ditangani secara lebih efektif dan aman. Berbagai pilihan terapi tersedia, mulai dari retinoid topikal, eksfoliasi kimia ringan, hingga terapi hormonal dan obat oral yang disesuaikan dengan kondisi pasien.
Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak. Meremehkan perasaan remaja dengan kalimat seperti "tidak usah dipikirkan" justru bisa memperburuk keadaan. Yang dibutuhkan adalah empati, validasi perasaan, dan rencana perawatan yang jelas.
Beberapa langkah dasar yang direkomendasikan dr. Gupta antara lain membersihkan wajah dengan pembersih lembut dua kali sehari, menggunakan retinoid topikal pada malam hari, memanfaatkan benzoyl peroxide atau asam salisilat untuk jerawat aktif, serta menghindari kebiasaan memencet jerawat. Konsultasi ke dokter kulit sejak dini juga sangat disarankan, terutama jika jerawat bersifat hormonal, menetap, atau berisiko meninggalkan bekas.
Penanganan yang tepat, disertai dukungan emosional dari lingkungan sekitar, dapat membantu remaja keluar dari lingkaran stres dan ketidakpercayaan diri. Kulit yang sehat memang penting, tetapi kesehatan mental jauh lebih berharga.
Ketika keduanya ditangani secara bersamaan, proses pemulihan akan berjalan lebih menyeluruh dari luar maupun dari dalam.
Sumber: