Jerawat Ternyata Berdampak Besar pada Mental Remaja
Kulit berminyak dan berjerawat yang perlu perawatan lebih intens.--
"Kondisi ini menciptakan lingkaran yang sulit diputus. Stres memicu jerawat, dan jerawat kembali memperdalam stres," ujarnya.
Tekanan dari media sosial turut memperparah situasi. Standar kecantikan yang tidak realistis, budaya membandingkan diri, serta penggunaan filter berlebihan membuat remaja semakin merasa tidak cukup baik.
"Masalah utamanya bukan jerawat itu sendiri, melainkan keyakinan bahwa jerawat membuat mereka merasa kurang berharga," tegas dr. Gupta.
Kabar baiknya, siklus ini dapat diputus dengan penanganan yang tepat. Menurut dr. Gupta, perkembangan dunia dermatologi saat ini memungkinkan jerawat ditangani secara lebih efektif dan aman. Berbagai pilihan terapi tersedia, mulai dari retinoid topikal, eksfoliasi kimia ringan, hingga terapi hormonal dan obat oral yang disesuaikan dengan kondisi pasien.
Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak. Meremehkan perasaan remaja dengan kalimat seperti "tidak usah dipikirkan" justru bisa memperburuk keadaan. Yang dibutuhkan adalah empati, validasi perasaan, dan rencana perawatan yang jelas.
Beberapa langkah dasar yang direkomendasikan dr. Gupta antara lain membersihkan wajah dengan pembersih lembut dua kali sehari, menggunakan retinoid topikal pada malam hari, memanfaatkan benzoyl peroxide atau asam salisilat untuk jerawat aktif, serta menghindari kebiasaan memencet jerawat. Konsultasi ke dokter kulit sejak dini juga sangat disarankan, terutama jika jerawat bersifat hormonal, menetap, atau berisiko meninggalkan bekas.
Penanganan yang tepat, disertai dukungan emosional dari lingkungan sekitar, dapat membantu remaja keluar dari lingkaran stres dan ketidakpercayaan diri. Kulit yang sehat memang penting, tetapi kesehatan mental jauh lebih berharga. Ketika keduanya ditangani secara bersamaan, proses pemulihan akan berjalan lebih menyeluruh dari luar maupun dari dalam.
Sumber: