Menyimpan Makanan Sembarangan Bisa Berbahaya, Ini Solusi yang Disarankan Pakar

 Menyimpan Makanan Sembarangan Bisa Berbahaya, Ini Solusi yang Disarankan Pakar

Menyimpan Makanan Sembarangan Bisa Berbahaya, Ini Solusi yang Disarankan Pakar--

CURUPEKSPRESS.COM - Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menerapkan gaya hidup sehat, perhatian terhadap aspek-aspek sederhana dalam kehidupan sehari-hari pun semakin besar. Salah satu hal yang kerap luput dari perhatian, namun memiliki pengaruh signifikan terhadap kesehatan, adalah pemilihan wadah makanan dan minuman. Padahal, wadah yang digunakan setiap hari berperan langsung dalam menjaga kualitas dan keamanan makanan yang dikonsumsi.

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan wadah berbahan kaca dan stainless steel semakin dianjurkan sebagai alternatif yang lebih aman dibandingkan plastik. Hal ini tidak terlepas dari kekhawatiran terhadap paparan mikroplastik yang berpotensi masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan minuman. Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran sangat kecil yang dapat terlepas dari wadah plastik, terutama jika digunakan dalam kondisi tertentu.

Peneliti Epidemiologi Sulawesi Selatan, Ansariadi, SKM., M.Sc.PH., Ph.D, menjelaskan bahwa penggunaan wadah plastik, khususnya yang tidak berlabel food grade atau telah mengalami kerusakan seperti tergores, berisiko melepaskan partikel mikroplastik ke dalam makanan. Risiko tersebut semakin besar apabila plastik digunakan untuk menyimpan makanan panas atau dipanaskan ulang. Paparan suhu tinggi dapat mempercepat proses degradasi plastik, sehingga partikel mikroplastik maupun zat kimia berbahaya lebih mudah terlepas dan mencemari makanan.

BACA JUGA: Viral di Media Sosial, Baking Soda untuk Skincare Justru Berbahaya Menurut Dermatolog

BACA JUGA: Sering Disalahartikan, Ini Perbedaan Purging dan Breakout pada Kulit Wajah

Menurut Ansariadi, kebiasaan menyimpan atau memanaskan makanan menggunakan wadah plastik kerap dianggap praktis, namun dapat menimbulkan dampak kesehatan dalam jangka panjang. Paparan mikroplastik yang terus-menerus berpotensi memengaruhi sistem pencernaan dan metabolisme tubuh. Partikel-partikel tersebut dapat memicu peradangan, mengganggu keseimbangan hormon, bahkan meningkatkan risiko munculnya penyakit kronis. Meskipun dampak jangka panjang mikroplastik masih terus diteliti oleh para ahli, prinsip pencegahan tetap menjadi langkah bijak yang perlu diterapkan sejak dini.

Sebagai solusi yang lebih aman, wadah berbahan kaca dan stainless steel dinilai memiliki tingkat stabilitas yang lebih baik serta tidak mudah bereaksi terhadap suhu tinggi. Kedua bahan tersebut tidak mengalami degradasi seperti plastik ketika terpapar panas, sehingga risiko pelepasan zat berbahaya ke dalam makanan relatif lebih kecil. Oleh karena itu, penggunaan wadah kaca dan stainless steel dianggap lebih aman untuk menyimpan makanan dan minuman, baik dalam kondisi panas maupun dingin.

Selain aspek kesehatan, penggunaan wadah non-plastik juga memberikan manfaat bagi lingkungan. Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Prof. Sukri Palutturi, SKM, M.Kes, MSc.PH, Ph.D, menegaskan bahwa wadah berbahan kaca dan stainless steel bersifat lebih ramah lingkungan karena dapat digunakan berulang kali dalam jangka waktu yang lama. Dengan demikian, ketergantungan terhadap plastik sekali pakai dapat dikurangi, sehingga turut menekan jumlah limbah plastik yang mencemari lingkungan.

BACA JUGA: Tips Konsumsi Mie Instan Sehat Selama Ramadhan 2026, Ini Saran Ahli Gizi

BACA JUGA: Sering Diabaikan, Ini Aturan Penulisan Nama di Paspor yang Bisa Gagalkan Perjalanan

Ia juga mendorong masyarakat, terutama pelajar dan pekerja, untuk mulai membiasakan diri membawa wadah makanan dan botol minum pribadi berbahan non-plastik. Menurutnya, kebiasaan sederhana ini memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang dibayangkan, baik bagi kesehatan individu maupun bagi keberlanjutan lingkungan. Selain itu, masyarakat diimbau untuk lebih cermat dalam membaca label produk serta menghindari penggunaan wadah plastik yang sudah berubah warna, berbau, atau rusak, karena kondisi tersebut menandakan plastik tidak lagi aman digunakan.

Dengan mengadopsi kebiasaan ini, masyarakat tidak hanya melindungi diri dari potensi risiko mikroplastik, tetapi juga turut berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan bagi generasi mendatang. 

Sumber: