Kulit Awet Muda Bukan Mitos, Ini Rekomendasi Makanan Anti-Aging

Kulit Awet Muda Bukan Mitos, Ini Rekomendasi Makanan Anti-Aging

Kulit Awet Muda Bukan Mitos, Ini Rekomendasi Makanan Anti-Aging--

 
 
CURUPEKSPRESS.COM - Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Karina Marcella Widjaja, Sp.GK, AIFO-K, menjelaskan bahwa proses penuaan bukan semata-mata persoalan usia, melainkan juga sangat dipengaruhi oleh pola makan dan gaya hidup. Menurutnya, terdapat sejumlah jenis makanan dengan kandungan zat gizi tertentu yang berperan dalam membantu memperlambat tanda-tanda penuaan, terutama yang tampak pada kulit. Penjelasan ini ia sampaikan dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta.
 
Ia menekankan bahwa makanan yang kaya akan zat antiinflamasi dan antioksidan memiliki kontribusi besar dalam menjaga kualitas sel tubuh. Antioksidan berfungsi melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas, sedangkan zat antiinflamasi membantu meredakan peradangan yang kerap menjadi pemicu berbagai gangguan kesehatan.
Kerusakan sel yang berlangsung terus-menerus tanpa perlindungan optimal dapat mempercepat proses penuaan, baik secara internal maupun eksternal.
 
 
Dalam konteks kesehatan kulit, asupan nutrisi memegang peranan penting karena kulit merupakan organ terluar yang paling sering terpapar faktor lingkungan, seperti sinar matahari dan polusi. Radikal bebas yang terbentuk akibat paparan tersebut dapat memicu stres oksidatif. Oleh karena itu, pemenuhan nutrisi yang tepat menjadi salah satu strategi perlindungan dari dalam. Nutrisi yang memadai membantu proses regenerasi sel, menjaga elastisitas jaringan, serta mempertahankan struktur kulit agar tetap sehat dalam jangka panjang.
Karina juga menjelaskan bahwa nutrisi dan penuaan saling berkaitan erat.
Proses penuaan melibatkan berbagai mekanisme molekuler dan seluler yang kompleks. Seiring bertambahnya usia, kemampuan metabolisme tubuh cenderung menurun.
Penurunan ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan energi sehingga terjadi penumpukan lemak.
 
 
 
Akumulasi lemak yang berlebihan tidak hanya berdampak pada perubahan komposisi tubuh, tetapi juga dapat meningkatkan peradangan kronis tingkat rendah. Kondisi tersebut berpotensi memicu kerusakan sel, memperparah stres oksidatif, dan meningkatkan risiko penyakit degeneratif.
Untuk membantu mengendalikan proses tersebut, ia menganjurkan konsumsi makanan yang mengandung asam lemak omega-3. Zat gizi ini dikenal memiliki efek antiinflamasi yang baik bagi tubuh. Sumber omega-3 dapat diperoleh dari ikan, seperti salmon dan kembung, serta dari minyak zaitun, khususnya jenis extra virgin olive oil. Selain itu, makanan tinggi serat juga penting karena membantu menjaga kesehatan saluran cerna dan mendukung kestabilan kadar gula darah.
 
 
Karina menambahkan bahwa pemilihan makanan dengan indeks glikemik rendah perlu diperhatikan. Indeks glikemik menggambarkan seberapa cepat suatu makanan meningkatkan kadar gula darah. Konsumsi makanan dengan indeks glikemik tinggi dapat memicu lonjakan gula darah yang berulang dan mengganggu keseimbangan hormon insulin. Ketidakseimbangan ini dapat memperbesar risiko stres oksidatif dan mempercepat proses penuaan. Oleh sebab itu, memilih sumber karbohidrat kompleks dan membatasi gula tambahan menjadi langkah bijak.
Di sisi lain, ia mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai makanan yang berpotensi meningkatkan peradangan dalam tubuh. Produk dengan kandungan gula buatan, makanan cepat saji, minuman bersoda, serta minuman berenergi sebaiknya dikonsumsi secara terbatas. Pola makan yang didominasi oleh jenis makanan tersebut dapat mempercepat kerusakan sel dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan jangka panjang.
Dalam upaya mendukung pola makan yang bersifat anti-penuaan, Karina menyarankan konsumsi bahan pangan yang kaya flavonoid dan karotenoid. Flavonoid umumnya terdapat pada buah berwarna biru, merah, atau ungu, seperti ceri, raspberry, dan stroberi. Sementara itu, karotenoid banyak ditemukan pada sayuran dan buah berwarna kuning hingga merah, seperti wortel, labu, ubi jalar, tomat, bayam, dan brokoli. Warna alami pada bahan pangan tersebut menandakan keberadaan senyawa aktif yang bermanfaat bagi tubuh.
Ia menegaskan pentingnya variasi dalam mengonsumsi sayur dan buah. Setiap warna mencerminkan kandungan zat gizi yang berbeda, sehingga pola makan yang beragam akan memberikan manfaat yang lebih komprehensif. Mengonsumsi jenis makanan yang sama secara terus-menerus berisiko membuat asupan nutrisi menjadi kurang seimbang.
Proses penuaan merupakan bagian alami dari kehidupan, tetapi lajunya dapat dipengaruhi oleh kualitas asupan nutrisi. Dengan menerapkan pola makan seimbang dan bervariasi, setiap individu memiliki kesempatan lebih besar untuk mempertahankan kesehatan dan kualitas hidup hingga usia lanjut. 
 
 
 

Sumber: